"Raising Star" : Prabowo

pkssukarame.online. Prabowo Subianto makin mengentalkan posisinya sebagai ‘kuda hitam’ tahun depan. Popularitasnya terus menjulang. Kini, dia akan tertinggal di belakang Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri.
Lama menghilang dari jagad politik, tak membuat Prabowo dilupakan begitu saja. Setelah cukup lama bergerak di sektor bisnis dan pertanian, mantan Pangkostrad ini terus meroket popularitasnya. Dia layak digelari the rising star dalam blantika politik nasional.
Menurut para analis, kondisi ini membuat Prabowo harus segera menyingsingkan lengan baju. Dia dituntut menunjukkan komitmen untuk membangun kembali Indonesia yang adil dan sejahtera.

Sanggupkah Prabowo? “Lebih dari sanggup. Dia lebih mampu dari siapapun memimpin negeri ini. Ia memiliki kapasitas dan kredibilitas dalam dunia militer, bisnis, dan politik. Tinggal mencari teamwork yang tangguh dan reformis. Masa depan Indonesia bisa dikembalikan menjadi macan Asia,’’ kata Glenny Kairupan, ahli strategi di Gerindra dan mantan perwira Baret Merah.
Prabowo sadar, kuncinya ada pada pembangunan pertanian, kemaritiman, pedesaan, serta usaha kecil dan menengah. “Prabowo dan siapa pun pemimpin nasional ke depan, harus melangkah ke sana,” kata Revrisond Baswir, ekonom UGM.
Para politisi dan pengamat mengingatkan Prabowo agar tidak tergoda kapitalisme gelembung (bubble economy). Pada kapitalisme gelembung, arus dana biasanya merambah pasar modal, namun tak mengalir ke sektor riil.
“Tantangan lain bagi Prabowo adalah menegakkan kepastian hukum dan membasmi korupsi, memperbaiki iklim investasi, dan mereformasi birokrasi agar modernisasi pertanian, kemaritiman dan usaha kecil-menengah maupun koperasi, bisa direvitalisasi dan diberdayakan untuk rakyat banyak,” kata Zulkieflimansyah, dosen pasca sarjana FE-UI dan anggota DPR PKS.
Para cendekiawan melihat potensi kepemimpinan Prabowo cukup mencorong. Apalagi jika diimbangi teamwork yang profesional. “Prabowo tentu masih ingat pesan almarhum Sumitro Djojohadikusumo, ayahnya, tentang sektor riil berbasis pertanian dan kemaritiman,” kata M. Dawam Rahardjo, cendekiawan Muslim.
Banyak analis tak menduga meroketnya Prabowo begitu. Bahkan Direktur LSN, Umar S Bakry meyakini, memasuki 2009, popularitasnya bakal terus melejit karena kepeduliannya untuk membangun pertanian dan kemaritiman serta kaum miskin. “Prabowo tak hanya beriklan, melainkan komit kepada bangsa dan negaranya,” tegas Glenny.
Meroketnya Prabowo dibeberkan hasil survei yang menyebutkan tiga bakal calon presiden –SBY, Megawati, dan Prabowo-- akan bersaing ketat pada Pilpres 2009. Survei yang dilakukan National Leadership Center (NLC) bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia pada September 2008, menyimpulkan bahwa SBY unggul atas semua calon presiden dengan meraih 34%, naik tujuh poin dibandingkan dengan posisi pada survei sebelumnya, Juli 2008.
Posisi kedua dan selanjutnya ditempati oleh Megawati yang meraih 22%, Prabowo 15%, meninggalkan posisi Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Wiranto yang masing-masing meraih 4%. Kecuali Prabowo yang persentasenya meningkat empat poin dari hasil survei pada Juli 2008, Megawati, Sultan, dan Wiranto menurun masing-masing enam, dua, dan satu poin.
Posisi mereka, terutama lima besar calon presiden dalam survei ini, bisa saja berubah bergantung pada popularitas masing-masing. “Prabowo, misalnya, mampu menempatkan dirinya di bawah SBY dan Megawati karena iklannya cukup efektif,” kata Presdir NLC, Taufik Baharudin.
Hari-hari ini, Prabowo, calon presiden dari Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindra), bersiap membekali spirit, menggembleng mental dan moralitas 1.700 kadernya. Selama tiga hari, 10-12 Oktober, Gerindra melatih kadernya dari seluruh Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2009.
“Selama tiga hari, ribuan kader Gerindra akan dibekali dengan berbagai keterampilan dan strategi untuk merebut hati rakyat Indonesia untuk bersama-sama Partai Gerindra membangun Indonesia dengan lebih baik,” kata Glenny, Ketua DPP Partai Gerindra.
Glenny yang pernah satu kamar dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat aktif di Divisi Korps Taruna Akabri angkatan 1973 --semacam senat mahasiswa-- berpendapat bahwa peluang Gerindra untuk menjadi salah satu ‘kuda hitam’ dalam peta politik nasional, kini semakin terbuka.
Jaringan sosial Gerindra melibatkan elemen Nasionalis dan Islamis dengan kombinasi tokoh senior, para reformis, agamawan, mantan aktivis mahasiswa dan LSM, menjadikan Gerindra kini terus mendapatkan dukungan luas, khususnya di berbagai daerah.
Melihat perkembangan Gerindra, Zulkieflimansyah menyatakan, PKS tidak menutup kemungkinan berkoalisi dengan Prabowo guna membangun kembali ekonomi Indonesia sesuai konstitusi 1945. PKS masih melihat semua parpol potensial untuk diajak berkoalisi.
Sumber : INILAH.COM


0 komentar :

Posting Komentar

Copyright © 2009 Template design modified by Sadikin