PADA awal berdirinya Partai Keadilan Sejahtera (PKS)--dahulu Partai Keadilan (PK)--sudah dikenal sebagai partai politik (parpol) alternatif terbaik masyarakat. Sebab, selain basis partai Islam, para pengurusnya berasal dari aktivis-aktivis Islam muda yang dinilai mempunyai integritas tinggi dalam menjalankan syariat agama.
Sampai kemudian, setelah ikut pemilihan umum (pemilu) selama dua periode suara partai ini tetap bertahan bahkan naik jumlahnya. Sebab, kaderisasi partai dengan penguat ajaran-ajaran agama terus menarik minat kalangan masyarakat untuk ikut perjuangan parpol itu. Mulai dari orang tua, pemuda sampai birokrat yang jenuh dengan sistem pemerintahan yang mengesampingkan norma-norma agama.
Sehingga sistem kaderisasi kultural dengan menggelar silaturahmi berbarengan dengan taklim dapat mengikat kader dalam parpol itu. Wartawan Lampung Post Yoso Muliawan mewawancarai Ketua DPW PKS Lampung Ahmad Jajuli di Kantor DPW PKS Lampung, Jalan Untung Suropati No. 03, Kedaton, Bandar Lampung, Kamis (25-12).
Bagaimana awal mula Anda bergabung dengan PKS?
Sejak awal PKS berdiri 1998, ketika masih bernama Partai Keadilan. Sebelumnya, saya aktivis lembaga dakwah kampus di Universitas Lampung. Saya lebih senang dengan kegiatan sosial kemasyarakatan dibanding kegiatan lainnya. Seperti waktu gempa di Liwa, bersama teman-teman membantu para korban.
Seiring dengan kedewasaan berorganisasi, saya masuk PK dan ditunjuk menjadi sekretaris umum DPW selama tiga periode. Selanjutnya, saya terus menikmati aktivitas ini, terutama di kegiatan-kegiatan sosialnya. Karena, ada keyakinan ideologis dalam diri jika membebaskan orang lain dari kesusahan, maka Allah akan menyelamatkan di akhirat.
Agama adalah sesuatu yang mutlak dan sudah ada hukumnya. Sementara politik berada di ranah abu-abu, tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi. Bagaimana Anda menyinergikan itu dalam aktivitas di PKS?
Memang dunia ini dinamis, tidak akan bisa 100% baik, tidak bisa 100% culas, selalu tidak ada puncak kepuasan. Tapi dengan politik, menjadi relevan ketika ingin ada suatu kebijakan yang baik bisa memengaruhi secara lebih luas. Kalau cuma mengimbau lewat mimbar-mimbar pengajian, efeknya tidak bisa luas.
Dengan politik, gagasan bisa lebih cepat dan progresif sampai ke masyarakat. Memang ranah itu abu-abu, tapi yang terpenting tidak kehilangan jati diri: untuk apa kita hidup?
Dan, kalaupun hasilnya belum maksimal, itu bukan tuntutan Allah agar kita bisa menyelesaikan semuanya. Yang pasti, kita sudah berusaha.
Di PKS, kader tidak boleh meminta jabatan. Tapi jika diberikan, maka kader wajib mengembannya sebagai amanah. Seperti apa menerapkan hal itu dalam kepemimpinan Anda?
Di PKS, kader justru takut dan kalau bisa menolak jika diberi amanah. Tapi dengan proses kultural yang selama ini ada, maka PKS bisa mengikat kader.
Proses kultural seperti apa?
Ada taklim rutin yang wajib diikuti kader seminggu sekali. Selain wajib jadi peserta, kader juga wajib menjadi pengajar di suatu kesempatan lainnya. Ini proses agar kader tidak kehilangan jati dirinya.
Di forum itu, persoalan-persoalan dibicarakan. Misalnya, eh ente tidak cocok di posisi itu, ente di posisi lain saja. Atau misalnya, ente dahulukan dulu orang yang butuh bantuan. Kami merasa tidak pernah terbebani walaupun penghasilan sampai harus dipotong 50%.
Apa target di Pemilu 2009?
Kami punya target 20% berdasarkan amanat dari DPP. Target ini untuk memudahkan jika pada akhirnya mengusung kader untuk maju dalam pilpres atau minimal akan lebih mudah memetakan pilpres nanti.
Apa yang sementara ini sudah dilakukan untuk mencapai target itu?
Pemilu kali ini unik, apalagi setelah keluar keputusan MK soal suara terbanyak. Ini memacu semua calon untuk berlomba-lomba mendekatkan diri dengan masyarakat. Alhamdulillah, di PKS kampanye tidak serta-merta datang pada saat momen pemilu. Jauh sebelum itu, kami sudah ada kegiatan kultural yang bisa diikuti masyarakat, yaitu taklim.
Di struktur partai, 99% pengurus cabang di tingkat kecamatan se-Lampung sudah terbentuk. Sementara pengurus ranting di tingkat desa/kelurahan, sudah 85% terbentuk. Selain itu, kader-kader muda akan diterjunkan ke daerah, istilahnya kader membangun desa.
Evaluasi sejauh ini dari yang sudah dilakukan itu?
Akan kami perkuat terus sampai 100% pengurus di dua tingkatan itu terbentuk. Dengan memberdayakan kader-kader muda, kegiatan advokasi kami makin aktif. Gerak advokasi kami jadi seperti model LSM (lembaga swadaya masyarakat), cepat dan progresif.
Selain itu, pilgub lalu juga jadi bagian dari proses menuju Pemilu 2009. Kami rasa setidaknya sudah 12% suara mendukung kami, artinya bagaimana mencari yang 8% lagi.
Kampanye PKS dalam bentuk atribut menampilkan tokoh Muhammadiyah dan NU. Banyak yang menilai PKS ingin meraih suara dari dua kalangan itu. Bagaimana Anda menilainya?
Sebaiknya jauhi prasangka itu. Kalau ada satu pihak yang ingin mengapresiasi seorang tokoh, kenapa ada pihak lain yang harus kebakaran jenggot. Kalau mau juga, lakukan dan bila perlu dengan tokoh-tokoh lainnya. Bangsa ini butuh kebhinnekaan, bukan fragmentasi-fragmentasi.
Bagaimana dengan sosok Soeharto yang juga tampil dalam atribut PKS?
Bangsa ini harus tetap mengakui bahwa di samping ada sisi yang kurang baik, ternyata ada juga jasa-jasa yang sudah ditorehkan. Kenapa curiga? Saya rasa Soekarno juga begitu. Di samping ada hal baik yang beliau lakukan, ada juga yang kurang baiknya.
Sumber : http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008122523171452
0 komentar :
Posting Komentar